Tags

,

PADA malam kedua Lebaran kemarin, saat pulang kampung, oleh beberapa teman sebaya, aku diajak menengok Agus Mbeler di rumah barunya. Menurut teman-temanku, semenjak pulang kampung, setelah hampir sepuluh tahun tinggal di Jakarta, Agus sering sakit-sakitan. Dengan berjalan kaki, karena tidak begitu jauh dari rumahku, aku dan teman-teman menuju ke rumah Agus yang baru.

Sampai di sana, rumah mungil yang terlihat baru usai dibangun itu tertutup rapat. Wawan Udun, salah satu teman sebayaku yang tinggal persis di depan rumah Agus, hanya dipisahkan oleh jalan kampung, mengatakan kalau Agus baru saja dibawa ke rumahsakit. Lalu kami memutuskan untuk ngobrol di teras rumah Wawan, sambil menikmati kopi.

Di sela-sela obrolan yang sering diikuti dengan gelak tawa malam itu, sepasang mataku lebih sering mampir ke sebidang tanah yang sekarang ditempati Agus Mbeler dan keluarganya. Setiap kali mataku singgah di tempat itu, saat itu pula pikiranku terperangkap ke masa lalu.

***

WAKTU aku masih kecil, di lahan itu berdiri sebuah rumah kosong. Tidak jelas siapa yang memilikinya. Rumah itu dibangun di atas pondasi yang agak tinggi. Sebagian dindingnya, sekitar satu meter dari lantai, terbuat dari tembok. Beberapa bagian tembok sudah geripis dan gerowong. Bagian dinding yang lain, terbuat dari papan yang sudah berlubang di sana-sini, dimakan ngengat. Atap rumah itu terbuat dari genteng, dan banyak genteng yang sudah pecah. Pintu depan dan belakang selalu tertutup, juga jendela-jendela sebelah samping. Dari celah genteng-genteng yang sudah pecah, juga dari lubang papan serta tembok yang gerowong itulah, cahaya matahari bisa masuk. Kalau tidak, rumah itu pastilah bertambah singup.

Tepat di pekarangan samping rumah kosong itu, terdapat tiga pohon jambu air yang tumbuh besar. Di depan rumah, tumbuh sebatang pohon jambu kelutuk. Dan di belakang rumah, agak ke pojok dekat pagar kayu lapuk yang membatasi bagian belakang rumah tersebut, ada sebuah sumur.

Seluruh hal di rumah itu tidak terurus. Dulu, kami, anak-anak kecil di kampung ini, mempercayai rumah itu berhantu. Sekaligus karena itulah, rumah itu sangat memikat perhatian kami.

Di bawah batang-batang pohon jambu air, selalu tebal oleh daun-daun jambu yang rontok. Rumput tumbuh di halaman depan, dan di sekitar sumur dipenuhi oleh belukar. Hanya di saat-saat tertentu saja, terutama saat pohon-pohon jambu itu berbuah lebat, ada seorang laki-laki bertopi, yang tidak kami kenal, datang dengan naik sepeda angin, di sore hari, untuk membersihkan dedaunan dan sisa buah jambu yang dimakan codot. Lalu saat menjelang magrib, ia pulang dengan membawa sekeranjang penuh jambu air.

Jambu air di rumah kosong itu terkenal lezat. Ukuran buahnya besar memikat, dengan warna hijau mengilap. Jika sedang musim jambu tiba, dan ketiga pohon itu berbuah lebat, seluruh kampung kami pun tidak akan sanggup menghabiskan. Sementara kami, anak-anak kecil, hanya berani mengambil jambu dari luar pagar beluntas yang mengepung rumah itu dari depan sampai samping, karena kami takut hantu, sekalipun pada siang hari.

Pengalaman kami berani menerobos pagar beluntas, terjadi pertama kali, saat aku dan teman-teman duduk di bangku kelas dua SD, beberapa hari setelah kami dilatih menjadi Pramuka Siaga. Setelah menerobos pagar beluntas, kami sempat berebut keluar lagi karena ketakutan, lalu setelah mengumpulkan keberanian berusaha masuk lagi, namun keluar lagi karena tetap ketakutan, sampai berkali-kali. Akhirnya kami berani juga mendekati rumah kosong itu. Saat kami mengintip bagian dalam rumah, lewat celah-celah tembok yang gerowong, kami jadi tahu apa yang ada di dalam rumah itu.

Di dalam rumah itu nyaris tidak ada apa-apa. Hanya ada sebuah kursi lapuk di pojok ruangan, dan meja kecil yang salah satu kakinya sudah sempal. Dan hanya ada satu hiasan yang menempel di dinding, berupa wayang kulit tanpa tangan, sudah butut dan berwarna kusam. Setelah berhasil mengintip bagian dalam rumah itu, kami berdebat keras di depan langgar, aku berpendapat sosok wayang yang menempel di dinding adalah Kumbakarna, sementara Antok Kriyip yang juga suka menonton wayang kulit mengatakan bahwa itu adalah Dursasana. Pendapat kami terbelah dua, sebagian temanku ikut-ikutan pendapatku, sebagian yang lain ikut-ikutan Antok Kriyip. Hanya Agus Mbeler yang mengeluarkan suara berbeda, yang kontan kami tolak dan kami ejek, karena ia bilang wayang itu adalah Buta Cakil.

Rumah itu semakin memikat perhatian kami, setelah kami duduk di bangku kelas tiga SD. Saat itu, kami mendapatkan giliran untuk masuk dalam rombongan menonton film “G/30-S/PKI” di kota kabupaten. Semenjak pulang dari menonton film itu, setiap saat, perhatian kami tertuju pada sumur di bagian belakang rumah kosong itu. Kami bersepakat, sumur itu diberi nama Sumur Lubang Buaya.

Kemudian kami menemukan sebuah permainan yang sangat mendebarkan. Setiap Sabtu sore, kami membagi diri menjadi dua kelompok, kelompok PKI dan kelompok Tentara. Sebelum magrib, kelompok PKI bertugas memasukkan dedaunan ke dalam beberapa tas kresek berwarna hitam. Benda-benda itu kemudian harus dimasukkan ke dalam Sumur Lubang Buaya, di belakang rumah kosong itu. Saat itulah yang merupakan detik-detik menegangkan bagi kelompok PKI, memasukkan plastik-plastik ke dalam sumur menjelang magrib.

Seusai salat isya, kedua kelompok berada di markas masing-masing. Kelompok PKI di sekitar rumah kosong, sementara kelompok Tentara berada di rumah Wawan Udun. Setelah semua siap, kelompok Tentara menyerbu ke arah kelompok PKI. Kedua kelompok itu terlibat baku tembak. Ketika kelompok PKI sudah bisa dikalahkan, kelompok Tentara harus mengambil jenazah para Jendral, berupa kantung-kantung plastik, yang telah dimasukkan ke dalam sumur. Saat itulah yang merupakan detik-detik mencekam bagi kelompok Tentara, mengambil jenazah para Jendral dari dalam sumur, pada malam hari, dengan tali yang di ujungnya diberi kawat pengail.

Minggu berikutnya, kami bertukar peran. Begitu seterusnya. Permainan itu adalah permainan yang paling menjadi favorit kami, sekalipun sangat menakutkan. Hanya Wawan Udun yang tidak begitu tertarik permainan itu, karena pernah beberapa kali bisul yang selalu tumbuh di pantatnya selalu menjadi korban ketakutan kami saat menjalani permainan itu, entah tersenggol kawan, atau terjatuh saat berlarian.

***

SELALU ada rumah-rumah yang menarik bagi anak-anak untuk dikunjungi pada saat Lebaran. Juga ketika aku masih kecil. Salah satunya adalah rumah Mbah Sadli, kakek Agus Mbeler.

Aku dan teman-temanku, selalu tertarik untuk berkunjung ke sana karena Mbah Sadli selalu punya cerita, dari mulai zaman Belanda, Jepang, sampai zaman PKI. Kalau soal cerita, sebetulnya kami lebih tertarik datang ke rumah Mbah Marto Kendang, seorang penabuh kendang yang selalu ikut pergelaran Dalang Jaeri, seorang dalang yang cukup ternama dari desa sebelah. Mbah Marto selalu mengisahkan cerita-cerita wayang, dan itu jauh lebih menarik dibanding cerita-cerita Mbah Sadli. Tetapi di rumah Mbah Sadli, ada jenis penganan yang selalu diburu anak-anak, madumangsa yang dibungkus kertas minyak warna-warni.

Tapi setelah kami menonton film “G/30-S/PKI” dan bermain perang-perangan di rumah kosong, ketertarikan kami pada kisah Mbah Sadli meningkat. Di rumah Mbah Sadli, selalu saja hadir seorang laki-laki tua gagah, dengan kumis melintang, selalu merokok menggunakan pipa, dengan cincin-cincin akik yang melingkar di jemarinya. Nama orang itu Pak Jarwo, ia pensiunan tentara.

Rumah Mbah Sadli besar dan bersih, berlantai semen dan berdinding kayu jati. Pada dua tiang kayu yang terdapat di dalam ruang tamu, ada kepala rusa dengan tanduk indah dipasang saling berhadapan. Sementara di salah satu bagian dindingnya, di dekat gambar burung Garuda yang diapit foto Presiden dan Wakil Presiden, dipajang sebilah pedang dibungkus kulit berwarna cokelat tua.

“Pedang itu kupakai untuk menyembelih kepala orang-orang PKI,” begitu ujar Mbah Sadli suatu saat, ketika kami datang untuk berlebaran dan mengincar madumangsa.

Kalimat itu, sudah pernah kami dengar setahun sebelumnya. Saat kami datang, Mbah Sadli sudah dikelilingi banyak orang, di antara mereka terdapat sahabatnya, Pak Jarwo.

Cerita Mbah Sadli berulang dan terus berulang, begitu bersemangat. Hingga kemudian ia bertanya, “Tahukah kalian berapa banyak orang komunis yang telah kubunuh?”

Aku yang lamat-lamat masih teringat ceritanya setahun yang lalu segera menjawab, “Hampir sepuluh orang, Mbah!”

Aku berharap Mbah Sadli suka jawabanku, dengan begitu ia pasti tidak memperhatikanku kalau mengambil madumangsa dari piring. Tapi saat itu terdengar nada marah keluar dari mulut Mbah Sadli, “Hampir sepuluh bagaimana? Hampir dua puluh! Kalau tidak percaya, tanya kepada Pak Jarwo!”

Kami semua terdiam. Hatiku langsung kecut, dengan segera tanganku urung mengambil madumangsa. Pak Jarwo manggut-manggut sambil membelai kumisnya.

Entah karena apa, pada saat itu, Agus Mbeler bertanya, jenis wayang apa yang berada di rumah kosong itu?

“Rumah kosong mana?” tanya Mbah Sadli.

Agus Mbeler, yang masih srat-srut karena ingus selalu keluar dari hidungnya, menjelaskan rumah kosong tempat kami sering bermain.

Sontak seketika, muka Mbah Sadli merah, suaranya terdengar sangat marah, “Pasti itu Buta Cakil! Komunis itu seperti Buta Cakil!”

Malam itu, kami pulang cepat-cepat dari rumah Mbah Sadli. Tidak ada seorang pun di antara kami yang makan madumangsa lebih dari sebuah, aku bahkan tidak sempat makan sama sekali. Kami takut dengan kemarahan Mbah Sadli yang terkesan aneh, dan kesal sekali dengan Agus Mbeler. Bagaimanapun kami semua tahu bentuk wayang Buta Cakil. Dan bukan wayang itu yang ada di dalam rumah kosong.

Paginya, kampung kami geger. Begitu bangun tidur, aku langsung ikut duyunan orang menuju ke rumah kosong tempat kami sering bermain. Di sana sudah ramai orang, ada beberapa polisi, dan yang pasti ada Mbah Sadli dan Pak Jarwo. Mereka membuka paksa pintu rumah kosong itu untuk mengambil wayang.

Saat Mbah Sadli keluar dari rumah kosong itu, ia mengacung-acungkan wayang tanpa tangan itu ke udara, memperlihatkan ke semua orang, sambil berkata, “Wayang Buta Cakil ini berbahaya! Bisa menularkan paham komunis! Wayang ini akan kami amankan ke kantor polisi!”

Kemudian Mbah Sadli dan Pak Jarwo, diikuti beberapa polisi dan penduduk, berbondong-bondong berjalan menuju ke kantor polisi.

Aku dan beberapa temanku memilih bergerombol mendekati Mbah Marto Kendang dan beberapa orang dewasa yang lain. Aku dan Antok Kriyip ingin sekali bertanya ke Mbah Marto Kendang, benarkah wayang itu adalah Buta Cakil? Sebelum kami sempat memberanikan diri bertanya, terdengar suara Mbah Marto Kendang ngedumel, “Mbah Sadli itu bagaimana… Lha wong wayang itu Kumbakarna kok dibilang Cakil…”

Mendengar hal itu, aku langsung menatap wajah Antok Kriyip sambil mendongakkan kepala, memberi tanda bahwa tebakanku yang benar. Antok, dengan sepasang matanya yang senantiasa mengeriyip itu, tertawa kecut. Kami segera mencari-cari wajah Agus Mbeler untuk mengejeknya, tetapi ia tidak ada. Mungkin ia ikut kakeknya menuju ke kantor polisi.

***

KELAK pada kemudian hari, setelah peristiwa itu, kami mendengar bahwa rumah kosong itu dulu ditempati seorang laki-laki anggota PKI bersama keluarganya. Laki-laki itu dibui, dan tidak lama kemudian, istri dan beberapa anaknya pergi dari kampung kami. Kabar itu tidak jelas benar di telinga kecilku, yang jelas, semenjak saat itu, kami, anak-anak kecil dilarang bermain di sana.

Tidak berapa lama, di tanah lapang, akan digelar pemutaran film “G/30-S/PKI“. Kami anak-anak SD, seusai salat magrib wajib berkumpul di sekolah, setelah diabsen lalu berbaris menuju ke tanah lapang. Semua warga desa tumpah di tanah lapang. Semua penduduk wajib menonton, didampingi ketua RT dan ketua RW masing-masing. Baru kali itu, ada layar tancap yang didahului pidato Pak Camat, Pak Danramil, dan Pak Dansek.

Sialnya, ketika film itu telah buyar, beberapa rumah warga kemalingan. Kampung kami geger lagi. Suara-suara memberitahu bahwa komunis telah bangkit, mereka menjelma maling saat semua penduduk menonton film di tanah lapang.

Setelah kejadian itu, pos-pos ronda dipenuhi orang untuk berjaga malam, bahkan sudah penuh orang, sesaat setelah salat isya. Terlihat Mbah Sadli selalu membawa pedang yang ditaruh di dinding rumahnya. Ia segera menjadi magnet bagi para warga yang memenuhi pos ronda. Di samping Mbah Sadli, sebagaimana biasa, selalu hadir Pak Jarwo.

Pos ronda itu berubah menjadi panggung terbuka bagi Mbah Sadli. Di sana, ia bercerita dan terus bercerita. Aku dan teman-temanku juga merubungnya. Hingga kemudian, Mbah Sadli bertanya ke semua orang yang mengelilinginya, yang mendengarkan ceritanya, “Tahukah kalian berapa banyak orang komunis yang telah kubunuh?”

Kontan saja, aku dan teman-temanku yang lebaran sebelumnya ditanya hal yang sama, segera menjawab serempak, “Hampir dua puluh orang, Mbah!”

Mbah Sadli menatap wajah kami dengan muka merah, lalu ia berkata dengan suara keras, “Hampir dua puluh orang bagaimana? Hampir tiga puluh orang! Kalau tidak percaya tanya saja Pak Jarwo!”

Kami semua langsung terdiam. Melongo. Dan takut.

Berminggu-minggu, para warga berjaga, tetapi tidak satu pun yang berhasil menangkap maling atau orang komunis. Aku dan teman-temanku, diam-diam merasa kecewa, kami ingin sekali melihat wajah orang komunis. Tiba-tiba pada hari Minggu, kampung kami kembali geger. Aku yang baru bangun tidur segera menuju ke pusat keramaian. Lagi-lagi, tempat yang mendadak ramai itu adalah rumah kosong.

Semua warga laki-laki dewasa, melakukan kerja bakti di sana. Rumah itu dirubuhkan, ketiga pohon jambu ditebang, dan sumur di belakang rumah ditimbun. Di saat warga istirahat sambil minum teh, Mbah Sadli dengan semangat kembali bercerita soal PKI. Banyak orang merubungnya, tapi aku dan teman-temanku tidak begitu berani mendekat, hanya mendengarkan dari teras rumah Wawan Udun.

Kemudiaan terdengar pertanyaan khas yang selalu keluar dari mulut Mbah Sadli, ìTahukah kalian berapa banyak orang komunis yang telah kubunuh?î

Semua orang terdiam, terkesima mendengar cerita Mbah Sadli. Aku dan teman-temanku saling berpandangan, berunding sebentar, lalu dengan segera serempak menjawab, “Hampir empat puluh orang, Mbah!”

Sepasang mata Mbah Sadli memandang kami. Seketika kami terdiam, keder. Lalu terdengar suara Mbah Sadli, “Ya, kurang lebih empat puluh orang!”

Kami berpandang-pandangan. Beberapa orang dewasa yang mendengar cerita Mbah Sadli di pos ronda memandang kami dengan tersenyum, sambil geleng-geleng kepala.

Semenjak itu, rumah kosong tersebut telah rata dengan tanah. Dan sampai bertahun-tahun kemudian, tidak ada yang membangun rumah di atas tanah itu. Aku tidak tahu apa sebabnya.

***

MALAM itu, saat kami ngobrol di teras rumah Wawan Udun, aku sempat bertanya ke teman-temanku yang tinggal di kampung, bagaimana ceritanya sehingga Agus Mbeler bisa membangun rumah di atas lahan bekas rumah kosong itu? Tapi tidak ada yang bisa menjawab, termasuk Wawan Udun yang rumahnya tepat di depan rumah Agus Mbeler.

Sebelum pulang, kami bersepakat untuk menengok Agus Mbeler di rumah sakit, esok hari. “Sekalian nengok Mbah Sadli,”ujar Wawan Udun, sembari melanjutkan bahwa sudah hampir setahun Mbah Sadli juga mondok di rumah sakit yang sama.

Ketika aku bertanya, sakit apa? Semua orang menggelengkan kepala. Hanya Agus Kriyip yang kemudian menjawab asal-asalan, “Mungkin dicokot Buta Cakil.”

Mendengar itu, kami semua tergelak. Tertawa terbahak-bahak.(/35)

source: suaramerdeka.com